Merapi via Babadan, Menelusuri Jalur yang Hilang

/Merapi via Babadan, Menelusuri Jalur yang Hilang

Merapi via Babadan, Menelusuri Jalur yang Hilang

Ini adalah cerita pendakian saya yang ketiga. Perjalanan itu saya mulai tanggal 19 Maret 2017. Berbeda dari pendakian sebelumnya, ini adalah sebuah ekspedisi, sebab ini adalah pendakian Gunung Merapi via Babadan, jalur yang hilang. Pernah mendengar tentang Jalur Babadan?

Babadan memang sudah lama ditutup akibat keganasan letusan Gunung Merapi lima belas tahun silam. Semua keindahannya terkubur habis karena letusan tersebut. Jadi, bisa dibilang ini adalah jalur kuno Merapi, yang tidak sepopuler New Selo atau Sapu Angin.

Segala misteri yang menyelimutinya, sepinya minat peziarah untuk menguaknya kembali, jalur Babadan menjadi terlupakan. Tak banyak yang pernah melewati jalur tersembunyi ini. Kabut yang kerap menutupi lintasannya, pokok-pokok pinus mati yang seakan menjadi prasasti keganasan Erupsi Merapi, dan cerita mistis dan kegaiban yang menghiasi setiap lembahnya, semuanya menjadi selubung sempurna bagi Jalur Babadan yang sesungguhnya memesona.

Jika dibandingkan dengan jalur-jalun lain, Babadan adalah jalur pendakian untuk para petualang sesungguhnya. Mengapa saya berani bilang begitu? Sebab Babadan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari yang lain. Namun kesulitan-kesulitan itu sebanding dengan panorama yang disajikan oleh jalur ini.

Hanya jurang, jurang, dan jurang

Berpose di depan Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan/Hanny Edelweis Kecil

Saat memulai ekspedisi, saya sama sekali tidak paham jalur seperti apa yang akan dilewati, panoramanya bagaimana, dan apa saja yang akan saya temui sepanjang penelusuran jalur yang hilang ini.

Bersama 31 orang pendaki lainnya dan guyuran hujan, saya memulai perjalanan sore hari pukul 3 dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan. Jalur yang sama sekali tak terlihat memompa adrenalin. Kewaspadaan diri juga harus kami jaga. Harus ekstra hati-hati.

Jalur “hilang” ini ternyata begitu menakjubkan. Tidak pernah terbayangkan dalam benak saya ada jalur yang benar-benar menguras tenaga—dan emosi jiwa. Bahkan untuk mencapai kaki gunungnya saja, kami juga mesti berjalan kaki membelah jalur yang sebagian sudah tertutup rerumputan dan semak belukar. Sisi kanan dan kiri hanyalah jurang, jurang, dan jurang. Sangat berisiko.

Pada malam hari, hujan masih saja terus mengguyur kami. Sialnya, kami malah menemukan jalur buntu menghadap jurang pasir. Terpaksalah kami berdiam selama hamper dua jam di jalan setapak itu. Baru setelah berhasil menemukan jalan menuju ke bawah jurang tersebut kami kemudian melanjutkan perjalanan. Coba bayangkan saja sendiri: trek pasir, jam 1 pagi, kondisi sudah lemah, plus kedinginan.

Setelah naik lagi dan melewati jurang tersebut, kami kembali terhenti di jalan setapak. Malangnya, tidak ada lapak sama sekali untuk mendirikan tenda. Kami berdiam di sana hanya dengan mengandalkan flysheet untuk berlindung dari guyuran hujan yang tidak henti-henti.

Terkena gejala hipotermia

Trek pasir di lembah Sungai Gesik/Hanny Edelweis Kecil

Saya sudah tak kuat saat itu. Kondisi saya sudah lemah. Sekujur badan dingin dan tak kuat menahan terjangan angin—dan guyuran hujan. Saya mengalami gejala hipotermia pada pukul 2 pagi dan mendapat penanganan dari beberapa rekan ekspedisi.

Saat itu saya mulai tidak dapat merasakan tubuh saya sendiri. Saya lemas dan kedinginan. Seluruh tubuh saya matirasa dan hampir hilang kesadaran.

Rekan-rekan saya terus berusaha membuat saya tetap sadar dan mengahangatkan tubuh saya dengan mengandalkan api dari kompor. Mereka terus-menerus menyuruh saya minum air hangat. Saya bersyukur meraka bisa menangani gejala hipotermia saya dengan cepat sehingga dalam kondisi seperti itu saya masih tetap bisa bertahan

Pagi menjelang. Pukul 4 dini hari hujan mulai reda. Angin juga sudah tidak terlalu kencang. Kami masih di tempat yang sama—di jalan setapak. Sekitar pukul 6 pagi kami melanjutkan perjalanan.

Kondisi saya sudah membaik sehingga tetap dapat meneruskan eskpedisi itu. Kami mulai melawati jalur pasir berkerikil pada pukul 7 pagi. Saya mengira kami akan segera tiba di Pasar Bubrah. Ternyata dugaan saya salah.

Pasar Bubrah masih jauh

Pasar Bubrah masih jauh dengan trek yang tak stabil dan berisiko. Sungguh disayangkan, karena jalur menuju Pasar Bubrah sangat berisiko untuk dilewati, 30 anggota ekspedisi terpaksa menghentikan perjalanan—hanya satu orang yang berhasil sampai di Pasar bubrah.

Selfie di atas awan/Hanny Edelweis Kecil

Agak sedikit kecewa memang karena kami tidak dapat melanjutkan perjalanan. Jangankan puncak, Pasar Bubrah pun kami tak dapat. Tapi, kekecewaan itu bagi saya terbayar dengan panorama dan pengalaman yang kami dapat selama di jalur pendakian.

Gunung Merbabu siang itu terlihat cantik. Saya bersyukur masih dapat melihat keindahan itu dan bisa mengenangnya sampai saat ini.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari ekspedisi pendakian Gunung Merbabu via Babadan. Puncak ternyata memang bonus. Dan perjalanan adalah hal yang pada akhirnya akan membawamu pulang. Saya belajar untuk menaklukkan ego dalam diri ketika ekspektasi jauh sekali dari kenyataan. Semula saya mengira pendakian Merapi via Babadan akan sama seperti pendakian saya yang lain. Ternyata, Tuhan begitu baik memberiku pengalaman yang menakjubkan.

By | 2018-03-08T18:14:22+00:00 Januari 23rd, 2018|Cerita Pendakian|0 Comments

Leave A Comment