Cerita Pendakian

/Cerita Pendakian

“Solo Traveling” Menuju Puncak Gunung Padang

By | 2018-08-07T11:35:04+00:00 Agustus 7th, 2018|Cerita Pendakian|

Bermodalkan niat dan informasi dari internet, Oktober 2016 saya melakukan perjalanan sendirian (solo traveling) ke Gunung Padang di Cianjur. Karena suka menumpang kereta api, tiap kali melakukan perjalanan moda transportasi yang saya utamakan adalah angkutan publik itu. Cocok sekali; ternyata ada stasiun yang dekat dengan Gunung Padang, yakni Stasiun Lampegan. Interior gerbong KA Pangrango/Darojah Saya berdomisili di Jakarta. Jadi saya harus naik kereta api beberapa kali. Dari Jakarta saya ke Bogor dulu. Dari Stasiun Bogor Paledang yang terpaut sekitar 200 meter dari Stasiun Bogor, saya kemudian naik KA Pangrango (Rp 50.000 eksekutif, Rp 20.000 ekonomi) ke Sukabumi. Karena penasaran dengan interiornya, saya memesan tiket untuk kelas eksekutif. Setiba di Sukabumi, saya mesti lanjut naik kereta api lagi ke Stasiun Lampegan di Cianjur. Kereta relasi Sukabumi-Cianjur adalah KA Siliwangi. Tarif kereta api lokal itu lumayan murah. Saya hanya perlu membayar Rp 3.000. Rasa letih karena harus berpindah-pindah kereta itu dibayar lunas oleh pemandangan persawahan dan pegunungan indah yang disuguhkan alam sepanjang rel Bogor sampai Lampegan. Stasiun Lampegan/Darojah Langsung dihampiri beberapa tukang ojek Begitu turun di Stasiun Lampegan, saya langsuung dihampiri beberapa tukang ojek yang menawarkan jasa untuk mengantarkan saya ke Gunung Padang. Menurut beberapa artikel yang saya baca, tarif ojek dari Stasiun Lampegan ke Gunung Padang berkisar antara Rp 40.000-50.000 ribu sekali jalan. Berfoto bersama petugas PT KAI/Darojah Harganya bisa segitu karena jaraknya lumayan jauh [...]

Mendaki Gunung Slamet via Guci

By | 2018-08-03T18:22:09+00:00 Agustus 3rd, 2018|Cerita Pendakian|

Pendakian Gunung Slamet via Guci ini saya mulai dari Stasiun Pasar Senen. Dari sana saya dan rombongan naik kereta api ke Stasiun Tegal. Seterusnya, perjalanan kami lanjutkan ke Base Camp Kompak dengan mobil sewaan selama sekitar tiga jam. Karena Base Camp Kompak berada di kawasan Pemandian Air Panas Guci, waktu tempuh menuju base camp akan lebih lama pada hari-hari libur besar. Puncak Gunung Slamet mengintip di kejauhan/Ida Juniarsih Setelah istirahat sejenak melepas lelah akibat perjalanan panjang melewati jalan menanjak dan berliku, kami pun melakukan registrasi pendakian. Biaya pendaftaran pendakian Gunung Slamet via Guci hanya Rp 15.000/orang. Pihak base camp biasanya akan meminta foto rombongan untuk dokumentasi. Selain itu ketua rombongan juga diminta untuk meninggalkan KTP di base camp. Melintasi jalur rapat penuh semak-semak dan pohon tumbang Perjalanan dari base camp ke Pos 1 berlangsung sekitar 60 menit. Jalannya bisa dibilang landai. Saya dan rombongan berjalan melintasi jembatan, kemudian naik ke perkebunan karet warga sebelum sampai di perkebunan sayur. Saat cerah, dalam perjalanan antara base camp dan Pos 1 puncak Gunung Slamet akan kelihatan jelas. Memasuki Pos 2 trek melewati ilalang yang rimbun serta pohon berduri yang kadang membelai lembut kaki atau tangan. Jadi, memakai baju lengan panjang adalah keputusan yang paling bijaksana. Dari Pos 2, Pos 3 ditempuh selama sekitar 90 menit lewat jalur yang tak terlalu terjal. Berpose di Pos 1/Ida Juniarsih Trek yang paling [...]

Pendakian Menuju Puncak Gunung Rinjani

By | 2018-06-19T16:53:06+00:00 Juni 19th, 2018|Cerita Pendakian|

Pagi itu, Kamis, 4 Mei 2016, cuaca cerah berbalut udara segar menyelimuti base camp pendakian Sembalun. Sinar mentari dari ufuk timur terlihat sudah mulai bertugas, mulai meninggi dan menyilaukan mata. Sejenak aku tertegun menikmati segarnya udara pagi itu, sembari mengemasi peralatan untuk memulai perjalanan. Meski hari masih pagi, base camp sudah mulai dipadati pendaki yang datang dari berbagai penjuru. Tak ingin ketinggalan, ransel yang ukurannya melebihi tinggi badan segera kusandangkan di bahuku. Ransel itulah yang akan menemani perjalananku menapaki jalur menuju puncak Gunung Rinjani. Perbukitan di Sembalun/Eka Apriyanto Gunung Rinjani berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan tinggi 3.726 mdpl, banyak objek menarik yang ditawarkan Gunung Rinjani selain puncak, seperti hamparan padang rumput yang luas, Danau Segara Anak, Goa Susu, sumber pemandian air panas, air terjun, dan sepertinya masih banyak lagi yang lainnya. Ada tiga jalur resmi untuk mencapai puncak Gunung Rinjani, yakni Jalur Sembalun, Senaru, dan Torean. Kami pilih Sembalun, sebab dibandingkan jalur lain Sembalunlah yang paling landai walaupun cukup panjang. Waktu di arloji saat itu menunjukkan jam sepuluh pagi. Sejenak kami meluangkan waktu untuk berdoa sebelum memulai perjalanan menuju puncak. Kemudian, perlahan langkah kaki kecilku mulai menyusuri jalan setapak. Gerombolan sapi yang mencari makan terlihat asyik berkeliaran saat kakiku melangkah melewati hamparan padang rumput. Di kejauhan, lambaian daun nyiur bergoyang-goyang ditiup angin seolah sedang memberi salam kepada kami yang sedang bertualang. Melalui jalan setapak tanpa ujung [...]

Mendaki Tolangi Balease, Gunung Tersulit Sulawesi Selatan

By | 2018-05-28T21:02:28+00:00 Mei 28th, 2018|Cerita Pendakian|

Work hard, play hard. Itulah satu adagium terkenal yang sering kita dengar. Maknanya, selain bekerja keras, kita juga perlu sering bermain. Tujuannya agar hidup bisa seimbang. Medan Tolangi Balease yang terjal/Zamroy Itulah yang membuat saya berencana mendaki, tentunya setelah urusan pokok yang lain selesai. Dan kali ini sasaran main saya adalah Tolangi Balease, gunung kelima yang saya daki di Sulawesi Selatan. Datang seorang diri dari Jakarta, saya menemukan partner pendakian dari media sosial semalam sebelum keberangkatan. Namanya Yeyen, pemuda baik hati berumur 18 tahun, berasal dari Kelompok Pecinta Alam Skala di Luwu Utara yang sedang tinggal di Makassar. Singkat cerita, kami berdua berangkat menuju luwu utara menggunakan bus Mega Mas dengan tarif 150 ribu. Busnya besar, ber-AC, dan sangat nyaman. Setelah berkendara semalam, subuh kami tiba di Bonebone. Selanjutnya kami berjalan sejauh 2 km menuju rumah juru kunci bernama Pak Nasaruddin yang sangat baik hati. Tak ada perizinan dan biaya khusus di sini alias gratis. Kami hanya perlu melapor ke kepala desa. Mendaki Balease bisa dimulai dari Dusun Ulusalu, Desa Bantimurung, Kec. Bonebone, Kab. Luwu utara. Tolangi berada di rangkaian Pegunungan Korue, jantung Sulawesi. Membujur-melintang di perbatasan Sulawesi Selatan-Sulawesi Tengah menjadikannya relatif tak jauh dari Danau Poso. Meniti pohon tumbang yang berlumut/Zamroy Tolangi Balease dikenal tersulit di Sulawesi Selatan Tolangi Balease. Gunungnya memang tak setinggi Latimojong sebagai salah satu tujuh puncak tertinggi Indonesia. Tapi, soal grade, [...]

Mengintip Serunya AREI’s Women in Adventure 2018

By | 2018-05-17T08:12:11+00:00 Mei 17th, 2018|Cerita Pendakian|

Untuk memperingati Hari Kartini, 20-22 April 2018 lalu AREI Outdoor Gear mengajak para perempuan petualang Indonesia untuk melakukan pendakian bersama. Ajang itu diberi judul Women in Adventure. Berfoto bersama di Ranu Regulo/AREI Bersama sekitar 130 peserta, turut serta tiga perempuan petualang Indonesia yang sosoknya sering kamu lihat di televisi, yakni Medina Kamil, Annisa Malati, dan Jovita Ayu Liwanuru. Dari Ranu Regulo menuju Ranu Kumbolo Setelah menginap semalam di Ranu Regulo, jam 10 pagi tanggal 20 April 2018 para peserta memulai pendakian menuju Ranu Kumbolo. Ranu Pane/AREI Pos 1/AREI Dengan ceria, rombongan pendaki berbaju kuning tersebut berjalan bersama menelusuri setapak Gunung Semeru. Meskipun capek, kebersamaan itu membuat wajah-wajah para penerus Kartini tersebut tak penah kehilangan senyuman. Sepanjang perjalanan, suara celetukan dan senda gurau tak pernah berhenti terdengar. Lama kelamaan, para pendaki dari beragam latar belakang itu pun mulai melebur dan menjadi kawan. Annisa Malati dan Jovita Ayu di Ranu Kumbolo/AREI Perjalanan sekitar tujuh jam itu terasa seperti sekejap. Meskipun mereka berjalan dengan ritme yang berbeda, sekitar jam setengah 6 sore semua peserta Women in Adventure sudah berada di Kamp Ranu Kumbolo. Berbagi pengalaman dengan Medina Kamil, Annisa Malati, dan Jovita Ayu Setelah beristirahat sebentar di kamp, sekitar jam 8 malam semua peserta Women in Adventure berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan Medina Kamil, Annisa Malati, dan Jovita Ayu. Salah satu tenda besar Woman [...]

Ditemani “Mereka” saat Pendakian Gunung Kencana

By | 2018-03-08T18:01:57+00:00 Maret 6th, 2018|Cerita Pendakian|

Sudah pernah mendaki Gunung Kencana di daerah Puncak Bogor? Kalau belum, sekali-sekali kamu harus coba. Dari jalur pendakiannya kamu bisa melihat pemandangan yang sangat memikat, yakni Gunung Gede-Pangrango yang gagah. Kalau kamu sudah pernah ke Telaga Warna Puncak Bogor, Gunung Kencana ini terletak satu kawasan dengan wisata telaga. Jika hendak ke Telaga Warna ambil jalur kanan, tapi kalau mau ke Gunung Kencana pilih jalur kiri. Gunung Kencana sangat mudah diakses dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Namun jangan sekali-kali mencoba berjalan kaki dari pintu masuk wisata, karena jauh sekali dan menguras tenaga, nanti yang ada sebelum mendaki sudah kelelahan duluan. Foto di "gerbang" Tanjakan Sambalado/Fidha Riani Untuk sampai di Base Camp Gunung Kencana dari pintu masuk kawasan wisata, kamu perlu waktu sekitar dua jam. Sepanjang perjalanan menuju base camp, hamparan kebun teh yang luas sangat memukau mata. Tapi, kamu mesti hati-hati. Karena jalannya berbatu, menanjak, dan menurun, kalau hujan rute ini lumayan bikin kewalahan. Saya, Jamal, Ari, Nauval, Andan dan Haidar, memilih menggunakan motor menuju titik awal pendakian Gunung Kencana. Tapi karena jauh dan treknya lumayan cadas, motor sering ngebul, mogok tiba-tiba, dan mengeluarkan aroma kampas rem. Alhasil kami jadi kami sering gantian mendorong, juga beberapa kali berhenti untuk mendinginkan mesin motor. Bahkan, dua orang teman kami terpaksa jalan kaki sampai base camp karena timbel motornya sudah bau sangit. Takut terjadi hal-hal yang merepotkan, motor pun dititipkan di [...]

Gagal ke Puncak Lawu, Pulang Membawa Banyak “Cerita”

By | 2018-03-08T18:10:58+00:00 Februari 5th, 2018|Cerita Pendakian|

Gunung Lawu, 3.265 mdpl, berada di perbatasan Jawa Tengah (Karanganyar) dan wilayah Jawa Timur (Magetan). Gunung Lawu adalah salah satu gunung favorit para pendaki karena keindahan jalurnya—sabana—dan cerita-cerita (mistis) yang berkembang tentangnya. Menuju titik awal pendakian Gunung Lawu bisa menggunakan bis antarprovinsi atau kereta dengan waktu tempuh kurang lebih 10 jam. Awal September 2016 yang lalu saya bersama sepuluh teman merealisasikan pendakian ke Gunung Lawu. Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, sebab banyak yang seru untuk diceritakan. Jadi, sepulang kerja saya langsung menuju Stasiun Pasar Minggu, transit untuk ke Kemayoran. Karena nggak dapat tiket kereta buat berangkat—kami cuma punya tiket pulang—kami memutuskan untuk naik bis malam Damri yang pool-nya berada di Kemayoran, yang juga sekalian dijadikan meeting point. Ceritanya saya diajak oleh seorang teman, Adam Arwi namanya. Saya baru mengenal teman-teman lainnya saat di Damri Kemayoran. Bang Irwan yang dipilih sebagai leader. Bersama Bang Irwan, Bang Deno Saputra, Fimansyah, Adam Arwi, Bang Heru, dan Jane Jana, saya berangkat dari Jakarta untuk bertemu teman-teman pendaki yang sudah menunggu di Terminal Tirtonadi, Solo. Karena long weekend, jumlah penumpang melonjak pesat. Dan salahnya, kami nggak beli tiket bis beberapa hari sebelumnya. Teman laki-laki ke sana kemari mencari tiket, sementara saya dan Jane menjaga tas sambil bertukar cerita. Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan wajah muram lantaran kehabisan tiket bis. Karena saat itu perut keroncongan, kami mengisi perut dulu sambil memikirkan cara buat berangkat ke [...]

Mendaki, Pendekatan Diri pada Sang Ilahi Robbi

By | 2018-03-08T18:11:21+00:00 Januari 29th, 2018|Cerita Pendakian|

Jangan beri tahu aku seberapa berpendidikannya kamu, beri tahu aku seberapa banyak kau telah melakukan perjalanan. –Nabi Muhammad SAW Sampai saat ini, mungkin dunia petualangan tak mengenal siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “pendaki” beserta penjabarannya. Namun bisa saja istilah pendaki mulai populer sejak frasa “Pencinta Alam" dicetuskan sekitar tahun 60-an seiring berdirinya organisasi Mapala UI dan Perhimpunan Wanadri. Tak ada yang bisa secara tepat mendefinisikan arti dari kata pendaki itu sendiri. Masing-masing orang, apalagi jika dia seorang pencinta alam, terkadang memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami. Mungkin, mencari definisi kata pendaki sama saja seperti kita mencari tahu alasan seseorang hobi naik gunung. "Mau apa naik gunung? Sudah sampai puncak, turun lagi! Cape-capein saja, belum kedinginan, kehujanan, kepanasan!" Alasan-alasan itu yang kerap kita dengar dari orang-orang yang tak menyukai hobi tergolong ekstrem ini. Tapi coba tanyakan pada orang-orang yang hobi mendaki gunung; beribu alasan kenapa mereka suka mendaki akan terjawab dengan gamblangnya. Namun untuk menjawab secara tepat kenapa seseorang mendaki gunung, jawabannya relatif. Tergantung dari pengalaman apa yang dia dapat saat mendaki pertama kali. Mencari arti pendaki, pendaki mencari arti Legenda-legenda pendaki gunung seperti, Edmund Hillary, Reinhold Messner, George Mallory atau, misalnya, (Alm.) Norman Edwin, Soe Hok Gie, dan lain-lainnya, pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka begitu menyukai naik gunung. Kenapa mereka terus dan terus mendaki gunung hingga akhirnya harus menghembuskan napas dalam pelukan gunung yang dingin. Tak ada jawaban pasti. Semuanya memiliki definisi yang [...]

Merapi via Babadan, Menelusuri Jalur yang Hilang

By | 2018-03-08T18:14:22+00:00 Januari 23rd, 2018|Cerita Pendakian|

Ini adalah cerita pendakian saya yang ketiga. Perjalanan itu saya mulai tanggal 19 Maret 2017. Berbeda dari pendakian sebelumnya, ini adalah sebuah ekspedisi, sebab ini adalah pendakian Gunung Merapi via Babadan, jalur yang hilang. Pernah mendengar tentang Jalur Babadan? Babadan memang sudah lama ditutup akibat keganasan letusan Gunung Merapi lima belas tahun silam. Semua keindahannya terkubur habis karena letusan tersebut. Jadi, bisa dibilang ini adalah jalur kuno Merapi, yang tidak sepopuler New Selo atau Sapu Angin. Segala misteri yang menyelimutinya, sepinya minat peziarah untuk menguaknya kembali, jalur Babadan menjadi terlupakan. Tak banyak yang pernah melewati jalur tersembunyi ini. Kabut yang kerap menutupi lintasannya, pokok-pokok pinus mati yang seakan menjadi prasasti keganasan Erupsi Merapi, dan cerita mistis dan kegaiban yang menghiasi setiap lembahnya, semuanya menjadi selubung sempurna bagi Jalur Babadan yang sesungguhnya memesona. Jika dibandingkan dengan jalur-jalun lain, Babadan adalah jalur pendakian untuk para petualang sesungguhnya. Mengapa saya berani bilang begitu? Sebab Babadan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari yang lain. Namun kesulitan-kesulitan itu sebanding dengan panorama yang disajikan oleh jalur ini. Hanya jurang, jurang, dan jurang Berpose di depan Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan/Hanny Edelweis Kecil Saat memulai ekspedisi, saya sama sekali tidak paham jalur seperti apa yang akan dilewati, panoramanya bagaimana, dan apa saja yang akan saya temui sepanjang penelusuran jalur yang hilang ini. Bersama 31 orang pendaki lainnya dan guyuran hujan, saya memulai perjalanan sore [...]

Naik Mobil Satpol PP ke Gunung Papandayan

By | 2018-03-08T18:23:20+00:00 Januari 9th, 2018|Cerita Pendakian|

Kamu tahu? Setiap perjalanan yang kita lalui akan menjadi cerita dan kenangan, entah hanya akan tersimpan dalam memori otak kita, album foto, maupun tulisan. Memori bisa saja terlupakan. Tetapi album foto dan tulisan, jika disimpan dengan baik, nggak akan pernah hilang sampai kapan pun. Ini adalah tulisan tentang saya dan para sahabat saat mendaki Gunung Papandayan. Sebenarnya saya adalah pendaki pemula yang berambisi mengubah pemula jadi pemalu—eh, expert maksudnya. Karena masih pemula, jadi saya cari gunung yang nggak terlalu tinggi dan dekat dengan domisili. Akhirnya setelah sekian lama nyari barengan buat mendaki, ada juga yang ngajak ke Gunung Papandayan di Garut. Teman-teman rombongan pendakian Papandayan/Nia Aprilyani Awal mula saya bisa ke Gunung Papandayan ini adalah karena diajak saudari saya. Dini namanya. Doi punya kenalan anak gunung yang suka ngadain acara open trip. Setelah berunding dengan hati dan pikiran, akhirnya saya terima tawarannya. Tapi, jalan menuju keindahan itu memang nggak mudah. Saya masih harus melewati jalan yang berliku. Salah satu tikungannya adalah mendapatkan izin orang tua. Maka saya bujuk-bujuklah orangtua dengan meyakinkan, seyakin-yakinnya, bahwa anaknya akan pergi dan pulang dengan selamat. Lewat negosiasi yang cukup panjang, akhirnya saya diizinkan. Mungkin karena jalannya pun bareng saudara dan teman-teman yang sudah dikenal sama orangtua saya. Lima jam di atas mobil Satpol PP Tanggal 12-14 Juni 2015 adalah hari saya tunggu-tunggu. Open trip ini start di Citeras, Banten, sedangkan saya berdomisili di [...]