Ditemani “Mereka” saat Pendakian Gunung Kencana

/Ditemani “Mereka” saat Pendakian Gunung Kencana

Ditemani “Mereka” saat Pendakian Gunung Kencana

Sudah pernah mendaki Gunung Kencana di daerah Puncak Bogor? Kalau belum, sekali-sekali kamu harus coba. Dari jalur pendakiannya kamu bisa melihat pemandangan yang sangat memikat, yakni Gunung Gede-Pangrango yang gagah.

Kalau kamu sudah pernah ke Telaga Warna Puncak Bogor, Gunung Kencana ini terletak satu kawasan dengan wisata telaga. Jika hendak ke Telaga Warna ambil jalur kanan, tapi kalau mau ke Gunung Kencana pilih jalur kiri.

Gunung Kencana sangat mudah diakses dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Namun jangan sekali-kali mencoba berjalan kaki dari pintu masuk wisata, karena jauh sekali dan menguras tenaga, nanti yang ada sebelum mendaki sudah kelelahan duluan.

gunung kencana

Foto di “gerbang” Tanjakan Sambalado/Fidha Riani

Untuk sampai di Base Camp Gunung Kencana dari pintu masuk kawasan wisata, kamu perlu waktu sekitar dua jam. Sepanjang perjalanan menuju base camp, hamparan kebun teh yang luas sangat memukau mata. Tapi, kamu mesti hati-hati. Karena jalannya berbatu, menanjak, dan menurun, kalau hujan rute ini lumayan bikin kewalahan. Saya, Jamal, Ari, Nauval, Andan dan Haidar, memilih menggunakan motor menuju titik awal pendakian Gunung Kencana.

Tapi karena jauh dan treknya lumayan cadas, motor sering ngebul, mogok tiba-tiba, dan mengeluarkan aroma kampas rem. Alhasil kami jadi kami sering gantian mendorong, juga beberapa kali berhenti untuk mendinginkan mesin motor. Bahkan, dua orang teman kami terpaksa jalan kaki sampai base camp karena timbel motornya sudah bau sangit. Takut terjadi hal-hal yang merepotkan, motor pun dititipkan di pintu masuk kawasan wisata.

Badai pun tiba

Pukul 16.30 kami berenam tiba di base camp. Kami lalu istirahat, makan, salat, lalu mengecek packingan kami. Sore itu langit tampak tidak bersahabat. Mendungnya sudah terlihat dari kejauhan.

Saya, Andan, Jamal, dan Nauval sudah siap untuk segera mendaki, sementara dua orang teman yang berjalan kaki tadi baru tiba di base camp. Mereka mempersilahkan kami untuk mendaki duluan, sebab perlu istirahat sejenak.

Kami berempat bergegas menuju Pos I yang menjadi tempat pendaftaran dan mendapatkan simaksi. Jaraknya sekitar 15 menit perjalanan dari base camp melewati perkebunan teh yang sangat indah. Namun sayang sekali kami tidak bisa menikmati pemandangan itu terlalu lama, karena tiba-tiba suara gerimis dan petir mulai terdengar.

gunung kencana

Suasana dalam tenda/Fidha Riani

Setiba di Pos I, kami membayar Rp 20.000 per orang untuk menginap satu malam. Namun karena saat itu hujan deras disertai angin dan kilat-petir yang sangat menakutkan, kami berempat pun memilih untuk berteduh sementara di pos. Sudah pukul 20.00 malam, hujan tak kunjung reda. Selain tiduran kami mengisinya dengan bercanda, ngopi, dan galau bersama.

Pukul 21.00 hujan mulai reda walaupun masih gerimis tipis-tipis. Kami sudah sepakat mau tetap mendaki. Lama pendakian Gunung Kencana adalah sekitar 2-3 jam, kalau berjalan santai. Dengan jas hujan cebanan, kami siap menerobos hujan.

Keistimewaan Gunung Kencana ini adalah tangga terjal menjulang tinggi ke atas yang diberi nama “Tanjakan Sambalado.” Sepedas namanya, pedas juga rasa pegal kaki saat melintasinya—lutut menempel ke dagu, saat hujan treknya licin, dan banyak pacet yang gigitannya bikin kaki senat-senut.

Bagi Jamal dan Nauval ini adalah pengalaman pertama mendaki. Mereka masih menyesuaikan diri, sering berhenti untuk mengatur napas.

Pertemuan pertama dengan si “kakek”

Andan yang sudah sering mendaki berjalan cepat di depan supaya bisa segera mendirikan tenda. Sementara itu saya, Jamal, dan Nauval masih sering berhenti. Pandangan mata saya yang sangat sensitif ini terus melihat sekelebat-sekelebat, sesuatu yang muncul lalu cepat-cepat menghilang—namun tak pernah saya hiraukan.

Sampai akhirnya kami bertiga istirahat di sebuah tempat landai yang di sana terdapat batang pohon melengkung yang menghalangi jalur. Apabila hendak melewatinya, ada dua pilihan: jongkok atau melangkahinya.

Seperti biasa, saat beristirahat kami banyak ngobrol seputar pendakian. Namun, di saat yang bersamaan entah kenapa saya membatin, “Kok kita bertiga tapi kayak lebih dari bertiga, ya?”

Mata saya pun mulai mencari-cari keganjilan. Saat pertama kali menyapukan pendangan, saya tak melihat apa-apa. Kami pun melanjutkan obrolan. Namun rasa penasaran saya malah semakin tinggi. Lalu, pelan-pelan, saya memutar kepala dan mendapati seorang kakek tua sedang duduk di tengah-tengah di antara Jamal dan Nauval.

gunung kencana

Puncak Kencana/Fidha Riani

Spontan saya kaget dan berteriak kecil—wajah si kakek begitu menyeramkan. Saya lalu meminta Jamal dan Nauval untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan menuju puncak, tak hanya sang kakek yang terus mengikuti kami di belakang. Banyak anak kecil yang berlarian, terkadang tante kunti seliweran sambil tertawa-tertawa centil. Makanya sepanjang perjalanan saya terus menunduk, membaca ayat Alquran apa pun yang saya bisa.

Syukur sesampai di puncak mereka sudah tidak terlihat lagi, walaupun sesekali suara gaduh masih hilang timbul.

Kami tiba di puncak sekitar pukul 11.15 dan bergegas membantu Andan mendirikan tenda. Perut lapar, kaki cenat-cenut karena darah dihisap pacet, rambut sudah lepek dan klimis akibat kehujanan.

gunung kencana

Pemandangan keren khas pegunungan/Fidha Riani

Selesai mendirikan tenda kami bergegas masuk menghangatkan diri dan menyantap nasi padang yang kami bawa dari bawah. Rasanya nikmat sekali makan makan nasi padang hujan-hujan di puncak gunung yang hawanya dingin begini.

Kabut tipis pagi hari di puncak Gunung Kencana

Rupanya karena kejadian semalam, saya tidak bisa tidur, dilanda demam, dan suara saya menghilang. Saya memang biasanya seperti itu setelah melihat “mereka” yang tidak kelihatan itu. Pagi ini saya tidak menemukan sunrise dan lautan awan karena memang mendung dan ditutup kabut. Tapi, tetap saja indah.

Setelah selesai masak lalu makan bersama, pukul 14.00 siang kami turun. Semula kami berencana turun jam 10 pagi, namun tertunda karena demam saya tak kunjung turun. Lucunya, kami yang naik mulanya berenam, saat pulang jadi berduabelas.

Karena saya dan Jamal pernah kecelakaan, kaki kami suka linu dalam perjalanan turun. Alhasil, kamu berdua jalan paling lambat dan setia di posisi paling belakang.

gunung kencana

Rombongan turun/Fidha Riani

Awalnya perjalanan turun berlangsung biasa-biasa saja. Kemudian, sebelum Tanjakan Sambalado, saya sempat terpeleset dua kali sampai-sampai saya tiba-tiba merasakan lelah yang luar biasa. Saya juga sedikit pusing. Jamal pun tak berani membiarkan saya berjalan sendirian dan selalu melangkah tepat di belakang saya.

Di depan Tanjakan Sambalado, saya jadi membayangkan bahwa jalur ini pasti akan terasa lebih sadis kalau tak ada tanjakan itu. Para pendaki pasti akan selalu terpeleset karena licin, sebab medannya miring dan terdiri dari tanah liat. Belum lagi ada pacet.

Ditemani  “mereka” selama perjalanan turun

gunung kencana

Tanjakan Sambalado/Fidha Riani

Menuruni Tanjakan Sambalado bukanlah perkara mudah. Lutut saya terasa jauh lebih lemas, jari-jari kaki mesti lebih kuat menahan beban badan. Melihat Tanjakan Sambalado di siang hari, Jamal nyeletuk, “Wah, gila, sih! Semalam kita hujan-hujanan, licin, ngelewatin jembatan sadis kayak gini.”

Nah, saat saya menuruni tanjakan ini, Jamal iseng memotret saya dari belakang. Hasil foto dari Jamal itulah yang bikin saya tahu bahwa ada sesuatu yang mengikuti saya waktu perjalanan turun.

Saat itu saya hanya merasakan bahwa ada yang memperhatikan saya selain Jamal. Namun saya selalu berpikir positif bahwa tak ada apa-apa di sana.

Setiba di bawah Tanjakan Sambalado, saya cuci kaki, tangan, dan muka di pancuran dekat pos bergantian dengan Jamal. Sambil menunggu Jamal bersih-bersih, saya pun ikut iseng motret Tanjakan Sambalado yang bagi saya sangat menawan itu.

Keisengan motret itu juga kembali membuahkan hasil: ada sesuatu lagi yang muncul di foto itu. Tapi, teman-temanlah yang lebih ngeh sama hasil foto saya. Melihatnya sendiri barangkali saya tak mungkin sadar apa saja yang ada di foto-foto itu.

Di mana saja, bagaimanapun juga, pasti ada penunggunya. Ada yang baik juga ada yang suka iseng bikin kaget. Karena itu, penting sekali untuk menjaga sikap di mana pun kita berada—walaupun tak ada jaminan juga buat tidak dibikin kaget oleh mereka.

By | 2018-03-08T18:01:57+00:00 Maret 6th, 2018|Cerita Pendakian|10 Comments

10 Comments

  1. Tito nugros Maret 6, 2018 at 2:53 pm - Reply

    Love you fidha
    Kaki semut adventure

  2. Ari Dwi Handoyo Maret 6, 2018 at 4:05 pm - Reply

    Mantap mpok Fidha raja mata penglihat mahluk halus wkwkwk

  3. Ahmad Maulana FRS Maret 6, 2018 at 6:02 pm - Reply

    Baca ginian malem malem di rumah trus sendirian pula. Jadi takut merhatiin fotonya.

  4. Fathur rahman Maret 7, 2018 at 11:32 am - Reply

    Udah pernah kesana, dan dari pintu kebun teh juga jalan kaki, tengah malem lagi…
    Justru disitu keseruan mendaki kencana, kalo langsung Kebasen camp naek kendaraan kurang dapet sensasinya,

  5. cahyo setia pratama Maret 7, 2018 at 11:46 am - Reply

    Saya juga punya cerita, tapi saya tidak bisa merangkai kata – kata nya sebagus ini.

  6. Fidha Riani Maret 19, 2018 at 3:48 am - Reply

    Ari Dwi Handoyo : Mantap apa nya siii ngapa jafi ketawa girang gitu ?

    Ahmad Maulana FRS : hiiihiiii jembatan nya memang menakutkan kan mas, nakutin buat di tanjak saking terjaln nya. Tapi asik ko kamu pasti ketagihan nanjak nanjak ?

    Fathur Rahman : iyaa sih emang seru mas jalan kaki lewatin kebun teh dari pintu depan jalan raya sama basecamp. Tapi yo gempor juga yaa kaki nya, gempor juga mata saya ngeliat sekeliling di tengah malam ?

    Cahyo setia pratama : hayook di coba awalnya bikin surat cinta dulu buat kekasih klo kekasih nya klepek klepek yess anda lolos ?

    Jelajah Pendaki Indonesia : mimin ku terimakasih yaaaaa ?

  7. pendakikusut Juli 9, 2018 at 2:18 pm - Reply

    ada sumber airnya ?

Leave A Comment